October 14, 2016

Kenapa saya bisa disini.

Ada yang menyebut bahwa saya mah orangnya legislatif banget. Iya gitu? Mungkin hal ini didasarkan pada fakta bahwa tahun lalu saya habis-habisan menjadi tim KPU atau pemilu-pemilu-an di Unpad, kemudian di tahun berikutnya saya akhirnya untuk pertama kalinya sungguh suatu keajaiban, berada di dalam kepengurusan BPM Kema Unpad menjadi senator dari fakultas asal saya.

Waw.

Padahal berada di dalam Prama, lantas tidak membuat saya paham seluk beluk BPM. Pun tugas-tugas saya disana lebih mirip penyelenggara sebuah acara, yaitu perhelatan pemilu. Hanya saja, mungkin saya menjadi sedikit terbiasa dengan segala macam tetek bengek undang-undang, peraturan resmi, surat keputusan, dan apapun itu yang sering dipanggil dengan legal drafting.

Kemudian apa yang membuat saya akhirnya masuk ke dalam jajaran legislatif kampus?

Mari kita lihat bertahun-tahun ke belakang. Sebagai seorang siswa SMA, mahasiswa rasanya terdengar sungguh keren. Berisi orang-orang hebat yang mandiri dan penuh semangat. Kemudian ada yang disebut dengan BEM. Atau kita sebut, OSIS-nya sekolah. (Lantas setelah di kampus, barulah saya menyadari bahwa mereka yang berada di dalamnya sungguh tidak suka jika disamakan dengan OSIS). Terdengar keren, pokoknya. BEM. Waw. Kemudian kakak perempuan saya pun masuk ke dalam jajaran BEM itu. Namanya adik, mungkin sudah hakikatnya pengen mengalahkan kakak. Maka saya pun bermimpi ingin masuk ke dalam BEM.

Terus, dimana BPM? Sungguh tidak ada. Rasanya saya baru mengetahui istilah tersebut saat sudah masuk Unpad. Di SMA, saya tidak tahu banyak. Hidupnya sempit berada di ekskul, Rohis, atau tempat les. Tidak suka OSIS, karena untuk bergabung disana saya harus ikut LDK atau Latihan Dasar Kepemimpinan. Yang isinya seperti pelatihan-pelatihan militer, Rasanya mager sekali. Akhirnya, bye, OSIS.

Namun, berada di kampus yang sama, jurusan yang sama, dan lingkaran pertemanan yang sama, membuat saya terus menerus dibandingkan dengan kakak saya. Di semester 2, saya masuk ke dalam kepengurusan BEM fakultas. Akhirnya, cita-cita masuk jadi anak BEM kesampaian. Namun, lagi-lagi, dibandingkan. Maka tahun kedua, saya tidak melanjutkan. Pun ke BEM univ. Sampai pada suatu April, seorang senior yang berinisialkan K mengajak saya bergabung di Prama.

Setelah seleksi, interview, dan lain-lainnya, maka saya pun diterima. Awalnya senang, tanpa tahu ternyata dengan bergabung di Prama, saya menjadi penonton langsung dari pentas drama di Unpad akhir 2015 silam. Ah, intinya, menjadi saksi hidup hingar bingar kericuhan yang terjadi. Menjadi pihak yang tersudutkan dan dipandang menyebalkan, padahal mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dari Prama, saya belajar untuk lebih jauh menghargai sebuah proses.

Namun saya masih menyimpan cita-cita ingin masuk BEM univ. Iya, da anaknya mah bukannya cita-cita pimnas, apa gitu.

Sampai, perbandingan-perbandingan itu masih terdengar. Sulit sekali rupanya lepas dari jejak kakak saya. Selalu setiap orang berkata, 'Wah ini adiknya....' dan lain-lain. Need for ach saya tidak mengizinkan hal itu terjadi. Maka di tahun berikutnya, awal 2016, ketika saya diminta untuk mengisi kekosongan kursi psikologi di BPM Kema, saya pun menerimanya. Lalu langsung mengurusi berkas ini itu yang sungguh riweuh. Tidak lagi ada yang berkata saya masuk ini-itu untuk ngikutin kakaknya. 

Iya. Sesederhana itu. Mengapa saya berada di dunia legislatif ini. Semua sangat baru. Hampir saja saya terseok-seok untuk menyesuaikan diri disini. Sampai akhirnya, semua terasa menyenangkan. Bertemu dengan kawan-kawan yang luar biasa aneh. Berada di dalam sekre berantakan dengan wi-fi yang fantastis. Sampai akhirnya dibilang saya itu orangnya legislatif banget. Padahal, saya yakin asumsi mereka itu dikarenakan frekuensi saya di sekre yang terbilang tinggi. Tidak tahu saja saya sebenarnya hanya memanfaatkan koneksi internet.

Kurang dari dua bulan semuanya pun akan berakhir. Selamat tinggal sekre. Selamat tinggal kawan.

Akhirnya, cita-cita saya masuk BEM univ pun tidak kesampaian. Berhubung waktu saya di kampus sudah hampir kadaluarsa. Tapi ternyata BPM pun tidak kalah keren. Iya, keren kok. Beneran.


0 komentar:

Post a Comment