June 12, 2016

Sudah lama tak berjumpa. Ya? Ya?

Bercerita tentang kehidupan sehari-hari terasa membosankan dan mengkhawatirkan. Kenapa? Saya juga tidak tahu. Namun kembali membaca laman demi laman di blog ini, saya seperti terbawa ke zaman baheula dimana menulis adalah hal yang menyenangkan dan tak perlu risau memikirkan apapun.

Juli 2015 tepatnya tanggal 31 adalah terakhir kali saya menge-post di blog ini. Bahasanya sudah lumayan gak alay-alay amat. Maklum, sudah kuliah. Sedikit lebih dewasa. Alias jadi membosankan. Membaca tulisan-tulisan dulu ketika SMA, memang alay, tetapi menyenangkan. Seperti langsung terpikir, ya ampun gue dulu gitu banget.

Padahal, kehidupan di dunia kampus jauh lebih berwarna. Jauh lebih luas. Sekolah saya, SMAN 1 Tangerang, bahkan lebih kecil daripada kebanyakan satu fakultas di Unpad. Tapi naha cerita seolah lebih berkesan dulu, di tempat yang imut?

Atau saya sudah tidak lagi memiliki sudut pandang yang menyenangkan? Ga tau deh. Seolah gak ada lagi apa-apa yang bisa diceritakan di saat ini. Dulu, kehidupan sehari-hari yang biasa banget bahkan terasa menarik dan pantas untuk diceritakan di blog. Sekarang.... Gak tau ah.

Manusia itu dinamis. Katanya. Benarkah?

Iya juga sih. Toh saya disini yang kian hari makin kaku kaya robot, adalah bukti bahwa saya begitu berbeda dengan diri saya yang dulu. Seringkali kangen, dengan ke-dulu-an itu. Kemudian meratapi perubahan-perubahan yang ada. Padahal, lebih banyak juga hal positif yang terjadi.

Sekarang, keinginan untuk kembali mengabadikan hari-hari biasa itu muncul. Tentu ga akan di-publish di t*u*m*b*l*r. Terlalu banyak yang mengenal saya hahahaha. Gak ding. Kasian orang lain, yang buka tumblr untuk baca tulisan-tulisan bermakna. Bukan curhatan ga penting dari seorang saya yang biasa banget.

Anyway, besok UAS Psikologi Personel. Baca? Udah sih. Semua. Tapi, baru baca kaya orang mau kuis mendadak. Ditambah pengumpulan tugas Metpen. Well. Akibat ditunda berabad-abad, sekarang saya harus makan hasilnya. Sukurin! Saatnya kembali mengaktifkan the power of kepepet.

0 komentar:

Post a Comment