July 31, 2015

Hari yang panjang. (Setidaknya untuk saya saat ini)

Hai.

Saat ini saya tengah menikmati liburan semesternya mahasiswa yang terkenal panjang. Dari 24 Juni hari terakhir saya UAS dan masih 4 Agustus sampai akhirnya hari perkuliahan pertama. Lama? Iya lama banget. Sayangnya, berhubung saya anaknya itu sok-sok-an pengen ngehitz, maka saya mendaftar pada kegiatan dimana kegiatan tersebut akan membuat saya harus kembali ke Jatinangor lebih awal. Urgh. Semoga tidak terlalu cepat.

Lantas, apa sebenarnya yang saya lakukan di rumah sampai rasanya tidak rela kalau harus segera kembali kesana? (baca: nangor)

Tidak ada yang istimewa. Sungguh. Justru disini saya merasa waktu untuk saya bermalas-malasan jauh lebih sedikit dibandingkan di kosan. Lalu? Maksudnya?

Yah, tahu sendiri lah. Tapi disini, pikiran saya jauuuh lebih tenang. Tidak ada tekanan dari dia-dia-dia-dia. Hahaha. Rasanya menyenangkan. Hanya bersama ummi abi. Juga sodara-sodara yang menyebalkan. Hanya kesejukan nangor lah yang paling saya rindukan.

Sejujurnya, sampai saat ini, saya tidak tahu lagi apa yang ingin saya tuliskan. Tapi berhubung saya tuh sering ngaku suka nulis alias ngetik, lanjut aja ya. Bodo amat makin tijel juga.

Nah, sebulan lagi saya akan resmi berulang tahun ke 20. Ya ampun kepala dua. Hahaha lebay ah. Dulu, rasanya begitu jauh untuk menyandang umur yang diawali dengan dua. Perasaan masih lamaaa banget dan bahkan hampir kerasa gak nyata. Dan sekarang, here I am. Padahal kalau di psikologi mah semenjak umur saya 19 tahun 6 bulan maka saya dinyatakan sudah berusia 20 tahun-an.

Ada yang menarik dari umur 20 tahun. Saya pernah menonton sebuah film yang bertemakan umur tersebut. Sekelompok anak muda yang tentunya berumur 20 tahun dan menjalani kehidupannya. Namun, jika saya bandingkan dengan kenyataannya, kok beda banget ya? Hidup saya yang sering kali saya keluhkan diam-diam itu tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka. Benarkah kehidupan di luar sana seberdinamika itu? Maka saya disini apa atuh. Flat banget.

Mungkin ada hubungannya dengan hobi saya yang membaca buku-buku fiksi. Kehidupan penuh petualangan, berbahaya, kejar-kejaran, invasi alien, serangan monster, ancaman penyihir, buruan polisi, dll. Atau menjadi anak raja, pewaris grup bisnis raksasa, the-chosen-one, dll. Sehingga saya kembali membandingkan kehidupan mereka dengan kehidupan saya yang rasanya penuh banget dengan rutinitas yang membosankan.

Namun, rutinitas itulah yang diterima dengan baik oleh masyarakat. Padahal, siapa juga mereka? Kenapa gue harus ngikutin maunya mereka?

Well itu adalah pilihan. Saya memiliki kebebasan untuk menentukan apa yang ingin saya lakukan. Sesuai dengan pandangan masyarakat? Atau tidak. Namun di setiap pilihan pasti ada konsekuensinya. Kalau begitu, apakah masih bisa disebut kebebasan? Ya iyalah. Jangan kaya lagi belajar filsafat deh.

Intinya? Inti dari tulisan saya awal-akhir?
Ada yang tahu?

Yak. Saya hanya sedang menghabiskan waktu. Rasanya menyenangkan kembali mengetik huruf demi huruf yang walaupun berakhir dengan sebuah postingan konyol.

Ah ya, terakhir. Saya habis membuka post lama yang pernah saya tuliskan dulu pada bulan Oktober 2012. Disitu jelas sekali saya sedang menghadapi minggu tersibuk penuh ulangan dan tugas organisasi. Namun saya yang dulu begitu menikmatinya, bahkan merindukannya. Dia menjalani semuanya dengan senang.

Lalu saya merasa malu dengan saya-yang-hampir-20-tahun-ini. Stupid. Malu dan iri dengan diri sendiri. Menyesali mengapa saya telah berubah sedrastis ini. Ingin sih menanggapi dengan kalimat, kan lingkungan kita beda! disana kamu berada di tengah orang-orang yang mendukung, memepercayai kamu, menghargai, dan selalu ada. Tapi, bukan itu masalahnya.

Masalah kita akan selalu terupgrade kawan! Jika saya tidak bisa menghadapi masalah saya yang sekarang, bukan berarti saya jadi payah, tapi saya yang tidak ada peningkatan.

Namun semua orang bisa mengasah dirinya kan?

0 komentar:

Post a Comment