July 15, 2014

Urgh, Syaf!

Jika blog bisa berdebu, maka aku membayangkan bahwa blog ini sudah dilapisi entah berapa cm debu. Maka kali ini, biarlah aku menuliskan kegalauanku selama dua semester.

Sungguh, belajar untuk menjadi seorang psikolog tidaklah semudah yang aku bayangkan. Juga tidak semenarik yang aku inginkan. Padahal baru juga dua semester disini…

Kadang, aku merasa kalau semua ini terlalu membosankan. Hingga tanpa aku sadari (well, just don’t wanna admit it) semua emosi tidak penting itu membuat aku tertinggal, dan tersesat. Jika diibaratkan dengan commuter line, aku naik begitu saja tanpa sadar bahwa sebenarnya stasiun tujuanku sudah lewat. Lalu ketika aku turun entah dimana, saldo di dalam kartuku tidak cukup sehingga aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.

Jika dibandingkan dengan saat SMA yang pelajarannya beragam, mengapa aku lebih menikmatinya? Ataukah dari awal aku memang ‘salah jurusan’?

Lalu kembali lagi dimana aku berangan-angan menjadi seorang psikolog. By the way, tidak pernah sekalipun aku memimpikan untuk bekerja di suatu kantor dengan jadwal yang begitu monoton, pagi hingga sore, lalu libur di Sabtu dan Ahad, dengan harus mengenakan setelan kerja. Uh, sudah cukup aku dari TK hingga SMA terjebak dengan rutinitas.

Lalu? Apa yang aku angankan?

Aku sungguh sadar, bahwa peran psikolog belum terlalu dilihat di Indonesia. Berbeda dengan dokter, ketika demam, mereka langsung mengunjungi rumah sakit. Yah atau setidaknya klinik. Namun jika anak mereka mungkin lama membaca, sering tantrum, nakalnya keterlaluan, atau pendiam parah, jarang sekali ada yang langsung mengonsultasikannya dengan psikolog. *Eh, atau ini hanya pandanganku?

Aku ingin sekali, ada suatu tempat, seperti rumah sakit atau klinik, hanya saja berisi psikolog semua, dengan spesialisasi yang berbeda-beda juga. Namun bukan rumah sakit jiwa, toh itu juga bukan berisi psikolog, melainkan psikiatri.

Namun aku sadar betul. Bahwa aku sudah berada di jalan ini. Aku juga ingat betul, bagaimana perasaan saat 8 Juli 2013 lalu. Ketika saat itu aku dinyatakan lulus. Bagaimana kegalauan luar biasa itu terbayar sudah.

Iya, aku tahu sekali, bahwa semakin tinggi tangga yang aku naiki, langkah ini akan semakin berat. Seperti ada besi yang secara bertahap melingkari kaki dan tanganku. Oh, mungkin kamu bisa membayangkan seorang pahlawan kungfu yang sedang latihan menaiki gunung dengan beban di kakinya. Iya, itu aku. Ehm, mungkin bukan aku banget. Tapi ya miriplah.


Iya, semakin tinggi tangga yang aku naiki, akan menjadi semakin berat langkah ini, juga akan semakin sulit. Namun, sulit bukan berarti tidak bisa, kan?

Nb. Permintaan maaf untuk yang sudah membaca _(._.)_

0 komentar:

Post a Comment