April 6, 2014

Kisah si Perantau

Pengalaman itu guru terbaik. Oh yes. Rasanya lucu sekaligus takjub saat aku membaca beberapa post dari zaman dahulu kala. Seperti ya ampun aku dulu gitu banget yah atau ada lagi kenapa sekarang aku gak bisa nulis kayak dulu? Dan masih banyak pikiran-pikiran yang terlintas lainnya.

So, here I am. Aku sudah bukanlah aku yang dulu lagi. Yang tidak bisa menerima kritikan orang lain (walaupun tidak pernah ditampilkan), yang selalu dengan bebasnya mengutarakan apa yang ingin diucapkan (walaupun bukan apa yang memang dipikirkan), yang sibuk tetapi kian mengeluh, yang selalu merengut apabila ada kegiatan positif yang aku malas untuk datang (memang sekarang tidak?), dan sebagainya.

Aku bukanlah Syaffa si ketua ekskul Nippon Club. Aku bukanlah Syaffa si bendahara Rohis lagi. Atau Syaffa si sekretaris tiap event. Atau Syaffa si bendahara kelas. Atau Syaffa yang intinya mah hanya berkutat di satu tempat tanpa ingin mencoba melihat hal lain. Atau Syaffa yang nurut-nurut aja

Sekarang aku adalah mahasiswa (ciaelaah). Yang ceritanya punya segudang kegiatan, mulai dari penting-banget sampai gak-penting-banget. Syaffa yang akhirnya turun ke organisasi yang namanya BEM. Padahal mah sewaktu SMA rasanya ogah banget masuk OSIS. Sekarang jadi terjun langsung. Oh ya, juga menjadi salah satu pengurus LDK. Lalu ikut kegiatan sana-sini. Mulai dari komunitas dalam Unpad, sampai yang daerah dengan ruang lingkup Tangerang-Banten. Juga sibuk dengan tugas kuliah yang wow beda sekali dengan sewaktu sekolah. Apalagi UTS dan UAS-nya. Beda sekali. Nilai yang kita dapat, ya langsung menentukan IPK kita begitu saja. Gak seperti sekolah dimana nilai dibuat oleh guru. 

Dulu aku tidak mengkhatirkan ranking. Pun dengan nilai-nilai ujian. Aku hanya belajar, berusaha memberi yang terbaik, dan pasrah (atau cuek) terhadap hasilnya. Tidak pernah sekalipun aku merasa depressed ketika aku tidak bisa mengerjakan ulangan. Aku juga tidak pernah berusaha langsung mencari jawabannya setelah ulangan usai.

Berbeda dengan sekarang. Aku mulai mengkhawatirkan IPK. Apalagi dengan sistem terbaru ini. Semua nilai murni hasil ujian kita sendiri. Ketika Kamu mendapatkan nilai akhir untuk mata kuliah A adalah 80, maka nilai mutu untuk perhitungan IPK bukanlah 4, melainkan 3.2 walaupun huruf yang tertera adalah A. Ah, ini baru arti sebenarnya dari pepatah Huruf mutu hanyalah sekedar huruf.

Aku mencoba beradaptasi dengan kehidupanku saat ini. Salah, bukan adaptasi, melainkan menyesuaikan diri atau adjust. Adaptasi lebih cocok digunakan untuk hewan. Oke, kembali ke awal. Bahkan setelah tujuh bulan aku tinggal di tanah rantau ini, aku merasa belum terbiasa. Aku belum siap. Aku ingin kembali ke sekolah. Menjadi Syaffa si bendahara Rohis, rapat di sekre Rohis bersama kawan-kawan GenerAction.

Aku merindukan masa-masa menjadi siswa, tanpa embel-embel 'maha' di depannya.

Namun hidup itu akan terus berjalan. Aku tahu betul bahwa hidup tidak bisa statis. Semua memiliki masanya masing-masing. Ketika aku melihat ke belakang, aku senang bahwa aku pun memiliki perubahan-perubahan yang lebih positif. Aku bahagia ketika lingkunganku saat ini begitu menarikku untuk maju. Hidup itu adalah perubahan, dia adalah rangkaian dari pilihan-pilihan yang kita ambil. Yang aku ambil. 

Walaupun aku yang dulu tetap bertahan di aku yang sekarang. Seperti aku yang selalu cuek dengan ujian yang sulit. Atau tugas yang menggunung. Karena aku memiliki manajemen deadline yang luar biasa. Ada saat dimana aku mengerjakan tugas yang dikerjakan kawan-kawan lain dalam waktu paling sedikit seminggu, aku menyelesaikannya hanya dalam waktu dua jam. Yap, aku memang hebat. Hahaha.

Karena jika aku completely berubah dari aku yang dulu, maka aku bukanlah aku. Hanyalah seseorang yang baru, yang tidak mengenal masa lalunya. Aku mencintai dunia akademik, pun organisasi. Seperti dulu aku begitu menyukai datang ke tempat les, juga rapat atau evaluasi Rohis. Semua harus seimbang bukan?

Sayangnya, aku bukanlah tipe orang yang ambisius. Entah apakah itu hal yang baik atau tidak. Aku lebih menyukai membiarkan keadaan berjalan apa adanya. Positifnya adalah, kegagalan tidak menyurutkanku. Mungkin aku terlalu cuek. Lebih ke arah ya udahlah ya apabila aku gagal. Lalu langsung berpaling mencari hal baru. 

Lalu katanya aku jarang pulang ya? Mungkin ada yang menganggap bahwa aku tidak kangen rumah lah, atau malas pulang lah, dll. Namun tahukan Kamu? Aku memiliki keinginan untuk pulang setiap saat, keinginan yang lebih besar dari Kamu. Hanya saja aku sadar akan keadaanku. Tidak seperti mereka yang begitu mudahnya. Aku memiliki situasiku sendiri. Ketika air mataku keluar dalam diam. Tanpa sepengetahuan siapapun. Kecuali mungkin bagi Kamu yang iseng membaca post super panjang nan membosankan ini. Ada kalanya aku selalu menangis, terutama di bagian saat aku harus kembali ke perantauan. Pergi menggunakan bus Tangerang-Tasik di subuh hari.

Ah, sudahlah. Tulisan yang menjadi semakin random seiring aku menulis. Mari kita sudahi. Semoga apa yang aku tulis ini tidak menjadi mudarat. Aku hanya ingin belajar, menuangkan pikiranku menjadi rangkaian kata. 

0 komentar:

Post a Comment