February 6, 2014

Kok Psikologi? #1

"Kamu kenapa milih psikologi?" Suatu awal pembicaraan aku dan dua temanku.

"Kalau Kamu kenapa?" Aku bertanya balik karena aku sendiri sedang memikirkan alasanku.

"Berobat jalan," celetuknya sambil diselingi tawa. Dia memiliki tawa yang menular sehingga aku pun ikut tertawa. Heran, memangnya dia kenapa?

"Hei, jadi apa alasan Kamu memilih psikologi?" Tanyanya lagi setelah tawa kami hampir habis.

"Karena gak ada fisika," ucapku asal. Lagi-lagi kami tertawa. Tawanya lepas, sementara aku tertahan. Aku masih memikirkannya. Mengapa aku memilih psikologi?

...

Aku pernah mendengar perkataan seseorang mengenai psikolog. Dia bilang, psikolog itu aneh. Orang lain, dalam hidupnya, kebanyakan berusaha agar masalahnya selesai. Agar masalah tidak kunjung datang. Atau setidaknya, agar masalah datang sejarang-jarangnya. Namun baginya, seorang psikolog justru malah mencari masalah. Mengurus keluhan-keluhan klien yang yang tidak ada habisnya. Menyelesaikan masalah klien yang begitu beragam.

Intinya, saat kita berusaha menghindari masalah, justru psikolog malah menyelesaikan masalah yang bukan masalah dirinya. Siapa yang tahu masalah seorang psikolog?

Lalu aku memikirkan diriku sendiri. Apa iya? Haruskah aku mencari cermin untuk melihat masalah-masalah yang saat ini sedang aku hadapi? Bahkan aku sendiri pun tidak tahu dengan pasti apa masalahku. Jika ada yang memintaku untuk membuat list dari apa yang tidak sesuai dengan harapanku, tentu aku akan bisa menuliskannya dengan mudah. Namun, apakah yang tidak sesuai itu adalah masalah bagiku?


Lagi-lagi aku ingat perkataan seorang senior. Bahwa menjadi seorang psikolog, dibutuhkan empati dan peduli. Sudahkah aku? Apakah aku memiliki empati? Dapatkah aku digolongkan ke dalam orang-orang yang peduli?

Tidak tahu. Adakah alat ukurnya?

Sekali lagi, aku pernah membaca tulisan seorang mahasiswi psikologi dari universitas yang aku lupa namanya. Ketika itu dia ditanya oleh dosennya pertanyaan yang sama persis aku tuliskan di awal. Alasan dia? Suka. Passion. Reaksi dosen? Mulia amat, yakin gak berobat jalan?

Sama. Jawabannya sama dengan temanku itu. 

Lalu apa? Aku pernah memberitahukan kepada guruku sewaktu SMA mengapa aku memilih psikologi. 'Karena ilmu psikologi dapat dapat kita aplikasikan dimana pun, bahkan walau kita nanti hanya mengurus keluarga.' Mulia amat.

Setelah empat bulan menempuh semester 1, aku tersadar akan suatu hal. Aku aneh. Jika melihat teori-teori yang ada, aku merasa aneh. Aku merasa berbeda. Entah sudah berapa kali teman-temanku kerap menyebutku ADHD. Bahkan, apabila ada yang memintaku untuk menjadi sampel suatu penelitian, aku yakin aku akan menjadi sampel eror.

Lantas, mengapa aku memilih psikologi? Bahkan sejak awal kelas 10, kertas yang berisi mimpi, aku tulis dengan Fapsi-Unpad. 

Apa alasanku? Lucunya, aku menganggap jawaban-jawabanku selama ini 'mulia amat'. Benarkah?

...

"Syaf, serius. Kenapa Kamu milih psikologi?" Tanyanya lagi ketika dia melihat tawaku usai. Rupanya dia tidak menganggap serius jawabanku tadi.

Merubah Indonesia agar lebih baik melalui pendidikan karakter sejak dini?
Meluruskan penyakit mental para pejabat yang begitu bangganya mengenakan baju tahanan KPK?
Membantu orang-orang dengan masalah-masalahnya?
Menerapkan ilmu kejiwaan dengan maksimal agar manfaatnya terasa di semua aspek kehidupan?
Menerapkan psikologi dalam membina keluarga agar tercipta keluarga yang *ehem* bahagia?
Tidak ada fisika? 

"Berobat jalan," sahutku santai.

1 komentar:

Fitria Ghassani said...

Saya juga Psikologi baru masuk taun ini,tapi bukan di UNPAD. Padahal fapsi unpad juga cita2 saya dari kelas 10 #curcol

Post a Comment