February 5, 2014

Ceroboh, Pelupa, Atau?

Hari ini aku pergi ke optik untuk membeli (lagi) kacamata. Jika aku hitung, total sudah enam kacamata yang aku buat rusak. Ini berarti kacamata yang saat ini aku kenakan adalah kacamata ketujuh. Ah ya, pertama kali aku memakai kacamata itu di akhir tahun senior SMP-ku. Dimana lagi-lagi berarti bahwa aku sudah 6.5 tahun menderita myopi dan akan berlanjut sampai beberapa tahun kedepan.

Intinya adalah, aku, sebagai anak perempuan, entah mengapa mudah sekali merusakkan barang. Atau menghilangkannya. Baik itu sengaja atau tidak sengaja. Walaupun aku juga bingung mengapa aku pernah sengaja merusakkan barangku (ceritanya panjang).

Hal yang paling umum aku lakukan adalah mencari kacamataku dengan panik padahal kacamata itu bertengger manis di atas kepalaku. Bahkan beberapa kali aku mencari kacamata padahal saat itu sedang aku kenakan. Sehingga hasilnya adalah kepala menjadi tempat paling awal apabila aku merasa kehilangannya.

Aku pernah kehilangan handphone-ku di kulkas. Yap.  Kulkas. Kalau-kalau ragu, kulkas adalah semacam balok besar yang berguna untuk mendinginkan makanan. Panik mencari-cari benda mungil itu di sepenjuru rumah. Lalu dengan wajah bete akhirnya menemukan di kulkas. 

Mengenai piring, gelas, atau mangkok? Aku sebisa mungkin menghindari yang terbuat dari bahan pecah belah. Karena entah sudah berapa piring yang harus meninggalkan dunia ini dengan kejam? Sudah berapa gelas yang aku siksa? Sudah puaskah aku merusak mangkok-mangkok nan indah itu?


Lalu disini, aku mencoba memandang dari persepsi yang berbeda.

Kami, aku dan saudaraku, tidak pernah dimarahi saat tidak sengaja merusak benda-benda itu. Peralatan apapun itu. Bahkan tidak ketika aa menghilangkan handphone-nya sewaktu dia SMA. Juga ketika Ayas memecahkan gelas-entah-milik-siapa di kost-an. Dan kejadian-kejadian lainnya.

Memang, sifat ceroboh dan pelupa sulit diobati. Dan ummi-abi kami mengerti hal itu.

Namun, jika membicarakan sifat-sifat itu, abi juga beberapa kali melakukannya. Begitu pun ummi. Sehingga aku bertanya-tanya, apakah sifat itu bersifat genetik?

0 komentar:

Post a Comment