February 9, 2014

Apa dia bisa disebut baik?


Apa arti baik? 
Ada alat ukurnya?
Adakah levelnya?

...

Saat itu seperti biasa, kami sedang bercanda dengan riang (atau mungkin terlalu riang). Anehnya, semakin dekat kamu dengan seseorang, maka semakin mudah kamu melontarkan ejekan. Pokoknya, apapun yang seharusnya tidak kita ucapkan kepada teman biasa. Mungkin seperti memanggil dengan sebutan, "Wei, Bocah!" Untuk beberapa orang (mungkin banyak) itu merupakan cara memanggil yang kurang sopan. Tapi untuk kami, hal itu sangatlah biasa. Bahkan dapat dibilang normal. (Walaupun sebenarnya masih banyak panggilan-panggilan lainnya yang mungkin tidak pantas untuk dituliskan di blog yang ingin dibilang indah ini)

...

Tentu. Semua hal di dunia ini memiliki batas. Walaupun dia disebut baik oleh mereka. Walaupun dia disebut sabar oleh mereka. Ah ya, saya juga sering mendengar kalimat 'Jangan sampai melewati batas kesabaran.' 

Batas. Setahu saya, tidak ada yang tahu dimana letak pasti batas kesabaran itu sebelum kesabaran itu sendiri dikatakan habis. Pokoknya, tahu-tahu kita sudah meledak-ledak saja. 

Iya. Dia katanya memiliki kesabaran yang batasnya mungkin sangat jauh. Walaupun di luar dia berpura-pura marah, sebenarnya dalam hatinya masih terdapat kesabaran itu. Ketika dia terlihat sedang marah-marah, toh mereka tahu bahwa sebenarnya dia tidak marah. Ketika dia marah, yang akan dilakukannya hanya diam seorang diri. Mengunci diri dari dunia luar untuk beberapa saat. Lalu kembali lagi dengan wajah yang ceria.

Tahukah apa artinya? Mereka akan lebih mudah untuk meledeknya. Atau setidaknya sok mengkritik mengenai apapun dirinya di hadapan dia, atau di hadapan teman-temannya juga. Karena mereka tahu, toh dia tidak akan marah.

...

"Ah, dia ini. Gak apa-apa digituin. Gak akan marah juga." Lalu kamu tertawa bersama yang lain. Memaksanya untuk turut tertawa dengan hati yang remuk redam. Memaksanya untuk tersenyum di balik kesabaran yang sebenarnya sudah habis.

Mereka membuatnya tidak bisa memperlihatkan emosi yang sesungguhnya ada pada dirinya. Membuatnya untuk menampakkan emosi yang hanya orang lain ingin lihat. Tidak bisa berterus terang bahwa dia tidak suka, bahwa dia marah, bahwa kesabarannya hampir habis, bahwa dia membencinya.

...

Lalu aku sadar akan suatu hal.

Bahwa sedekat apapun kita dengan orang lain, ucapkan hal yang baik. Tidak perlu lah memanggil orang lain dengan sebutan yang sekiranya tidak baik. Tidak perlu lah meledek-ledek orang lain walaupun dia tidak terlihat marah. Tidak perlu. Karena kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya mereka rasa di dalam hati mereka. 

0 komentar:

Post a Comment