August 12, 2013

Setiap Tokoh Memiliki Nasib yang Berbeda

Sepertinya aku sudah hampir sampai menuju pijakan itu. Kadang memancarkan warna menenangkan, kadang hanya kekosongan yang seperti terpancar dari situ. 

Memikirkan masa depan, seperti bermimpi sambil menggunakan pelangi imajinasi milik Sponge Bob. Rencana demi rencana tertulis di tumpukan kertas putih di sudut meja. Dengan banyak coretan yang menandakan betapa seringnya mimpi itu berganti. Dengan banyak kertas putih polos yang siap aku tulis kembali.
_____________

Baiklah, mungkin ada baiknya bila aku membuka post di bulan Agustus ini dengan lebih ceria. Ya, sekarang sudah memasuki bulan ke-8. Dimana artinya kepindahanku menuju Jatinangor semakin mendekat. Begitu dekat, sampai rasanya seperti mimpi. Sudah lama aku memimpikan akan tinggal (sementara) di tempat lain, yang jauh dari rumah. Ketika semuanya hanya tinggal menghitung hari, apakah aku siap?

Tentu, siap tidak siap, aku akan tetap berangkat. Aku membayangkan teman-teman seangkatanku yang lain juga akan merasakan hal yang serupa. Pergi dari rumah untuk jangka waktu yang lama. Hidup mandiri tanpa ada yang mengurusi. Aku sok tahu? Tidak. Sudah banyak buktinya. Tweet-tweet galau yang dipost teman-temanku. Tidak akan aku capture, takut diprotes sudah mempublish tanpa seizin yang punya!

Ada satu hal baru yang belum aku beritahukan. Sesuatu yang membuka mataku lebih lebar. Membuatku akhirnya sadar, bahwa selama ini aku hanyalah katak yang melompat di dalam kardus tanpa diberi kesempatan untuk melompat lebih tinggi. Melompat lebih jauh. Atau sebenarnya kesempatan itu pernah datang tanpa aku sadari? Mungkin. Siapa tahu?

Tapi biarlah satu hal itu akan aku ceritakan di post yang akan datang. Karena jika aku memaksa untuk menulisnya, maka kalian akan keburu tertidur sebelum selesai membaca tulisan ini saking panjangnya. 

Di lain hal, aku menemukan kembali mimpiku yang beberapa saat tertutup. Saat ini, aku sedang rehat dari novel fantasi, sedang kembali ke bacaan awalku. Saat ini karya Tere Liye. Tanggal 11 kemarin (setelah pertimbangan yang cukup panjang dan unjuk rasa protes dari dompet) aku menculik dua buku karya Tere Liye ke kasir. Daun yang Jatuk Tak Pernah Membenci Angin, buku yang sudah lama ingin aku baca. Namun entah mengapa selalu tidak jadi. Lalu ada Berjuta Rasanya. Ah, ternyata itu buku dengan nuansa merah jambu. Sampai sekarang belum aku sentuh, karena aku masih dalam tahap berpikir setelah selesai membaca buku yang pertama.

Dan mengapa akhir cerita Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin begitu menyebalkan? Sungguh, aku begitu berharap besar pada Tania, juga pada dia. Namun mengapa... Ah, sudahlah. Kau harus membacanya sendiri untuk merasakan apa yang aku rasakan sekarang.

Hal yang pasti dari buku-buku karya Tere Liye, yaitu begitu realistis. Tidak neko-neko. Tidak dipenuhi 1001 janji kebahagiaan seperti bahagia-selama-lamanya. Tengoklah Hafalan Sholat Delisa, Moga Bunda Disayang Allah, Ayahku (Bukan) Pembohong, dll. Maka kau juga akan mengerti. Namun dari novel daun itulah, realita terasa begitu menyakitkan.

Ada dua tokoh yang aku rasa mirip. Yaitu Karang dan Danar. Dua pemuda yang berasal dari kehidupan jalanan. Dua pemuda yang yakin bahwa anak-anak itu dapat sukses, dapat menjadi seseorang. Yang begitu mencintai anak-anak. Namun, akhir kisah mereka begitu berbeda. Tapi, mungkin ada kisah lain bagi Danar. Kisah yang tak tertulis, namun membawa kebahagiaan.

Aku seringkali memikirkan nasib para tokoh saat cerita itu selesai ditulis. Ada lagikah kisah yang belum aku tahu? Apa mereka benar-benar bahagia seperti di ending yang penulis itu tentukan? Ataukah mereka akan dirundung kesedihan sepanjang hayat apabila kisah mereka diakhiri oleh ending yang menyedihkan?

Siapa yang berhak menentukan kelanjutannya? Apa hanya sang penulis? Atau aku dan kamu berhak menentukan kelanjutan kisah tokoh-tokoh itu? Tapi sepertinya, hanya sang pemilik cerita itulah yang berhak. Biar kita membuat sendiri kelanjutan kisah itu, untuk kita nikmati sendiri. Tersimpan rapat di dalam hati. Sekedar untuk memuaskan rasa penasaran, juga keinginan kita akan kisah si tokoh tersebut.

Saat ini aku sedang tenggelam dalam pemikiran si tokoh protagonis dalam setiap buku. Ada dua tipe. Yang pertama ialah The Chosen One. Dia yang sejak lahir memiliki bakat luar biasa. Dia yang namanya disebut dalam ramalan di zaman dulu. Dia yang memiliki garis keturunan yang luar bisa kuat sehingga otomatis dia pun menjadi lebih kuat. Dia yang terpilih. Dia yang wajahnya terlukis dalam legenda. Begitu hebat, tidak terkalahkan. Dielu-elukan, dikagumi, dipuji. Terlalu mudah, terlalu biasa. Dan aku tahu, aku tidak termasuk ke dalamnya.

Lalu ada from zero to hero. Dia yang memiliki keyakinan luar biasa, kemauan yang tidak ada habisnya. Kerja keras sudah menjadi bagian hidupnya. Latihan demi latihan terus dia lakukan. Dia meniti langkah satu persatu. Langkah yang begitu panjang dan berat. Berat karena cacian tak jarang dia dengar. Namun kerja keras itu tidak pernah berhenti. Sampai akhirnya dia berhasil di puncak kesuksesan. Dengan sifat rendah hati yang tidak pernah berubah, juga kebaikan yang selalu terpancar dari matanya.

Aku tahu, aku ingin menjadi yang kedua. Karena itu, aku pun akan seperti dia. Selalu bekerja keras. Sedikit demi sedikit menapaki langkah yang panjang dan berat itu, untuk menjadi seorang yang akan berdiri di puncak kesuksesan.


0 komentar:

Post a Comment