July 8, 2013

Ya Sudahlah

Lagi-lagi speechless. Kadang (atau sering) aku kesulitan untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam kepalaku secara verbal. Kalau di otak mah perasaan lancar aja, udah disusun rapih mana yang mau dikeluarin. Ngomong ini, terus itu, terus begini, dan begitu. Tapi nyatanya? Jreeng... Selalu kacau. Tiba-tiba blank dan lupa skenario yang (seharusnya) sudah disusun rapih.

Lucu rasanya kalau ingat masa-masa sibuk dulu. Kerja males-malesan. Alesannya sih sepele: titik jenuh, bosan, capek, harus ngejar pelajaran sekolah, sampai bete sama entah siapa. Kalau diingat-ingat lagi, ampun... kok bisa ya? Padahal itu semua adalah momen paling berharga yang sayang banget dilewatin. Karena kita cenderung merindukan hal-hal yang aneh saat sudah tidak menjalaninya lagi. Sebutlah aku kangen ngerjain proposal, dikejar LPJ, disuruh nulis notulen (walaupun aku bukan sekre sekalipun), rapat-yang-ujung-ujungnya-bercanda, kumpulin uang infaq, merhatiin calon pengurus kelas 10-11, dan-hal-kecil-lainnya. Walaupun tetep yang paling dikangenin itu satu: Evaluasi Jum'at.

-skip-

Oke, maaf jadi cerita yang gak penting-penting amat [emang gak penting, Syaff...]. Tapi, mungkin akhir tahun pelajaran bagi siswa kelas 3 SMA itu masa-masa yang paling berat. [Atau setidaknya yang belum dapat PTN, hiks.] Stres, galau, frustrasi, kadang sampai cuma pengen nangis. Begitu besar kekhawatiran saat detik-detik ujian. Pun detik-detik pengumuman. Rasa cemas yang kayaknya gak habis-habis. Ketika diterima, wuih luar biasa bahagianya. Ketika belum diterima? Jangan ditanya seberapa besar sedihnya. 

Di titik ini, aku seolah sudah tidak berkutik. Hanya tinggal menunggu, tapi apakah bisa? Dari perkataan maupun tulisan yang aku gembar-gemborkan tentang membesarkan hati jika belum diterima, berpikiran jernih, dan terus maju, apakah aku bisa? Karena sampai sekarang pun aku ragu. Aku sendiri tidak yakin. Apa yang akan aku lakukan? 

Ketika mimpimu yang begitu indah
Tak pernah (belum) terwujud ya sudahlah
Saat kau berlari mengejar anganmu
Dan tak pernah (belum) sampai ya sudahlah
Ya sudahlah. Toh hasil apapun yang keluar, gak akan bisa kita ubah. Mau guling-guling sampai protes ke kantornya, gak akan ada perubahan, kan? Karena, yah, aku tinggal nerima aja. Satu-satunya kegiatan yang tersisa adalah membuat hasil apapun itu jadi lebih baik. Kata siapa ya? Pokoknya selalu berpiran positif pada Allah SWT. 

Tapi lagi-lagi aku ragu. Iya, kadang aku khilaf. Terlarut dalam kesedihan. Butuh beberapa waktu untuk aku kembali seperti biasa. Untuk berpikir positif dan menyusun skenario selanjutnya. Untuk membuat peta perjalanan kehidupanku selanjutnya.

Satu dari sekian kemungkinan
Kau jatuh tanpa ada harapan
Saat itu raga kupersembahkan
Bersama jiwa, cita-cita, dan harapan
Kemungkinan itu ada banyaaak banget. Mungkin aku akan jatuh. Mungkin saat itu aku akan menghilang seperti buih. Mungkin saat itu harapan akan terasa bagai omong kosong. Karena dari sekian banyak kemungkinan, yang itulah  yang menghampiriku.

Namun aku akan bangun. Aku akan bangkit. Tidak peduli berapa langkah yang harus aku tempuh. Tidak peduli seberapa jauh jalan yang harus aku lewati.  

Kita sambung satu persatu sebab akibat
Tapi tenanglah mata hati kita kan lihat
Menuntun ke arah mata angin bahagia
Kau dan aku tahu jalan selalu ada

0 komentar:

Post a Comment