July 18, 2013

Mungkin akan diakhiri oleh warna-warna yang tak terlupakan

Ternyata tinggal selangkah lagi. Satu langkah menuju langkah-langkah berikutnya. Tapi setidaknya, untuk saat ini, aku telah mendapatkan kesempatan untuk dapat melangkah. Menjejakkan kakiku ke pijakan selanjutnya. Ke pijakan yang akan membawaku menuju dunia yang sepenuhnya berbeda. 

Namun, mengapa aku disini? Berdiri termangu memandang ke arah sebaliknya. Melihat pendar-pendar pelangi yang mewarnai langkah-langkah sebelumnya, menghiasi langit yang hanya kelabu. Tak kuasa aku menahan dorongan untuk berhenti. Duduk di anak tangga itu. Menikmati kenangan yang belum terpolusi realita kehidupan. Menikmati masa tanpa ada yang harus dikhawatirkan.

Dorongan untuk melangkah ke pendar itu begitu kuat. Aku mencoba untuk berjalan kembali. Namun penghalang itu ada, nyata. Membentengi dengan begitu kuatnya, memisahkan khayalan dengan kenyataan. Mendorongku untuk mengangkat kaki, meniti anak tangga selanjutnya. Melanjutkan langkah yang hampir selangkah.

Mungkin bukan pendar pelangi yang akan menanti. Pun warna-warna fantastis yang selalu mewarnai. Akan ada warna gelap, juga kelabu. Namun, warna-warna menenangkan itu akan selalu ada. Mungkin puluhan pijakan, atau hanya satu. Menutupi gelap itu, atau berkilau di antara kelabu.

Apa lagi yang bisa aku lakukan? Selain menyiapkan diri lalu menguatkan hati. Karena untukku, setidaknya hati yang mengendalikan rasa. Yang menimbulkan dorongan untuk melangkah kembali ke asal. Membuat pendar pelangi membutakan mata sesaat. Membuat sesaat, bagai selamanya.

Hanya ada satu tempat aku bisa melangkah mundur. Waktu saat aku memasrahkan diri pada Sang Pemilik Hati. Tempat dimana aku bisa yakin, bahwa pendar menenangkan itu akan lebih baik daripada kemilau pelangi yang fantastis. Tempat dimana aku bisa kembali kapan pun.


Titian pelangi itu akan kembali, dalam rangkaian warna yang menyejukkan.

0 komentar:

Post a Comment