July 22, 2013

Biasanya butuh waktu untuk melihat (sadar) bagaimana akhirnya.

Apa yang membuat kalian bahagia?

Tentu puluhan, bahkan ratusan jawaban ada dalam kepalamu. Begitu juga aku. Voucher keliling dunia mungkin? Atau mobil idaman terparkir manis di depan halaman rumah? Uang yang tidak pernah habis pun sempat terpikir. 

Namun sejatinya bahagia tidak perlu serumit itu. Bahagia itu mudah. Bahagia itu sederhana. Ada lebih dari 1001 cara untuk bahagia. Tapi, bahagia yang bagaimana? Siapa yang bahagia? Kenapa bahagia? Pantaskah berbahagia? Jawabannya sederhana. Karena jawaban setiap individu tentu akan berbeda. Jawaban itu akan datang sendiri dari hati masing-masing.

Kapan aku bahagia?

Saat membuka plastik pembungkus novel baru, atau saat paket buku datang dibawakan oleh Pak Pos. Setelah tas lama resmi tidak bisa dipakai, dan menggunakan tabungan sendiri untuk membeli tas baru. Atau ketika akhirnya memiliki sebuah handphone yang layak pakai.

Tapi itu hanya kebahagiaan yang datang dari materi. Tidak berlangsung lama, dan memerlukan modal yang besar. Akan cepat terhapus, terganti oleh yang lain.

Kapan aku bahagia?

Ketika selesai membereskan kamar, menata ulang susunan meja belajar, benda-benda di laci, dan menyusun pernak-pernik meja. Atau menata ulang susunan buku-buku, menyusunnya sesuai abjad, atau penulis, atau tergantung serinya, atau dari ukuran buku tersebut. Atau ketika akhirnya menyelesaikan benda-benda hasil merajut. Juga benda-benda hasil menjahit dari kain flanel.

Tapi bahagia ini tidak sama bagi setiap individu. Karena mereka memiliki cara tersendiri. Kesederhanaan yang mengawali sebuah kebahagiaan.

Lantas kapan aku bahagia?

Saat itu 8 Juli 2013, hari yang paling mendebarkan bagi kami, peserta SBMPTN. Saat aku sudah memasrahkan diri, dan siap menerima untuk yang terburuk. Bahkan aku sudah yakin akan tidak diterima. Hanya ada setitik harapan yang menggantung untuk setidaknya aku diterima di pilihan ketiga.

Sore itu, pukul 17.00 WIB aku duduk termenung menatap layar laptop. Sudah tidak ada lagi rasa berdebar di hatiku. Aku sudah menyiapkan diri ketika aku tidak diterima. Tidak akan ada menangis lagi. Aku akan menjalani hari seperti biasa. Saat ummi meminta nomor peserta dan melihatnya lewat handphone.

"Ya Allah, ini beneran kan?" Itu kata ummi. Bahkan aku masih mengingat suara ummi saat itu. Aku langsung senyum, mungkin awal dari kabar baik? Mungkin aku diterima di pilihan ketiga. Maka aku mulai penasaran dan melihatnya sendiri melalui laptop. 

Pilihan pertama. Ya Allah, aku hanya diam. Lalu mulai tersenyum sendiri. Tidak ada air mata yang keluar, tidak ada lonjakan kegembiraan yang luar biasa. Namun seolah-olah ribuan ton beban telah terangkat dari hatiku. Langkah menuju mimpiku semakin dekat!

Saat ummi memelukku sambil menangis. Saat Ayas ikut memeluk walau tidak tahu apa yang terjadi. Bahkan abi memelukku dan mengacak-acak rambutku. Saat aku memeluk Ocha. Saat aku memeluk kedua nenekku. Saat kakak meneleponku, saat aa yang walau hanya diam, tapi ada di saat itu.

Apakah aku bahagia?

Tentu. Saat itu ummi menangis sambil memelukku. Bahagia atas kelulusanku. Bangga akan keberhasilanku. Saat ummi memberitahukan teman-temannya dengan bangga. Juga abi yang mengumumkannya kepada teman-temannya juga. Juga nenek yang menginfokannya kepada seluruh om dan tanteku.

Ya. Aku bahagia. Ketika aku membahagiakan mereka. Ketika aku telah membuat mereka bangga.

Karena kebahagiaan yang aku rasakan saat membuat orangtuamu bangga, melebihi segala kebahagiaan lainnya.


-Syaffa Taqiyyah, calon mahasiswi-

0 komentar:

Post a Comment