June 19, 2013

Titian Pelangi

Kadang embusan angin tidak cukup untuk mengempaskan kenangan-kenangan itu. Mungkin, butuh terpaan angin kencang. Untuk kita segera sadar, dan bangkit kembali. Bukannya terlena akan belaian angin sepoi-sepoi.

Jadi, di sinilah aku. Sedang menata sebuah masa depan yang hanya tinggal selangkah. Merencanakan tiap jengkal yang akan aku jalani. Sambil menyimpan sebuah cadangan, seandainya selangkah itu menjadi puluhan langkah. Seandainya puluhan langkah itu, menjadi ratusan langkah.

Seandainya aku bisa berjalan mundur. Tentu, akan aku rencanakan langkah itu satu demi satu. Menghitung dengan cermat setiap milimeter yang berharga. Menyiapkan segalanya, sehingga -mungkin- keadaan akan menjadi lebih baik.

Tapi tidak bisa. Inilah posisiku sekarang. Suka atau tidak suka, kau tidak dapat mundur. Hanya satu pilihan yang ada: maju. Tinggal aku yang menentukan. Bagaimanakah caraku untuk maju?

Menyiapkan rencana demi rencana. Mungkin ratusan langkah itu akan menjadi ribuan langkah. Dan aku akan menerimanya. Merencanakan seribu langkah yang akan aku tempuh. Di mana pun, kapan pun, aku akan meniti langkah itu satu demi satu. 

Bahkan terkadang, hijaunya alam dan birunya langit tidak sanggup menjernihkan pikiran yang kelabu. Hanya silaunya sang mentari lah yang sanggup menguak tirai kelabu itu.

Hujan yang sering datang, selalu diawali dengan cuaca yang begitu kering. Mentari yang begitu terik. Kemudian diikuti dengan angin yang kencang.  

Karena terkadang kita membutuhkan hal yang keras. Untuk membangunkan kita dari mimpi indah itu. Untuk membuat mimpi itu tidak lagi hanya sekedar mimpi.


Syaffa Taqiyyah

Bersama mereka, aku meniti langkah..

0 komentar:

Post a Comment