May 27, 2013

Little Thing I Need

Ternyata, aku memang aneh. Ketika saat belajar aku membutuhkan suara-suara yang membuatku merasa tidak sendirian. [Bisa dilihat jika di malam hari aku belajar, selalu dengan tv menyala atau laptop yang memainkan entah film apa] Ketika aku merasa lebih nyaman diam dalam kesendirian di antara orang-orang asing dan merenungkan banyak hal. Ketika aku membenci diriku saat orang lain memperhatikanku karena hal yang positif. 

Ketika aku merasa lebih bisa ketika orang lain tidak mengharapkan suatu yang lebih dariku ini. Rasanya, mungkin lebih baik apabila mereka hanya melihatku sebagai anak yang biasa, yang tidak akan membuat suatu hal yang istimewa, atau pun suatu masalah.

Kadang, [atau sering] pesimis adalah hal yang dapat meringankan bebanku ketika aku jatuh terpuruk. Meringankan hatiku, dan membuat aku lebih mudah menerima kenyataan. Lalu [siapa tahu] ketika aku berhasil, maka rasa bahagia itu akan berkali-kali lipat terasa lebih manis. 

Namun, ketika yang lain mengharapkan suatu hal dariku, dan aku gagal meraihnya, aku jatuh terpuruk. Jauh lebih terpuruk. Sehingga aku berlari, berlindung dalam perasaanku sendiri yang sejak awal memang sudah yakin bahwa aku akan gagal. Sehingga, perlahan aku akan kembali menerima kegagalan itu. Karena memang sejak awal aku sudah mempersiapkannya.

Jadi, di sinilah aku. Berusaha melihat malam hari dengan lebih indah. Ada kalanya aku ingin bangkit. Bisakah aku melihat segalanya dengan lebih indah? Ketika aku sudah terbiasa menyiapkan segala hal untuk yang terburuk. 

Mungkin, hanya hal kecil sederhana yang aku butuhkan. Entahlah..

Ketika aku merasa lebih baik saat menuliskan kalimat demi kalimat yang entah mengandung makna atau tidak. Namun, aku merasa lega. Karena akhirnya aku dapat menuliskan sesuatu. 

Kadang, hal yang aku butuhkan untuk bangkit dari keterpurukan, begitu sederhana.

0 komentar:

Post a Comment