March 13, 2013

Prolog

Saat itu aku tengah menatap rembulan yang sedang bersembunyi malu di balik awan-awan di tengah kelamnya malam. Berpikir apakah mungkin ini adalah akhirnya, atau justru hanyalah sebuah awal dari hal yang lebih besar. Terlihat mata bercahaya yang balik memandangku dari sudut jalanan. Seekor kucing yang aku kenal sering berada di halaman rumahku di siang hari. Mengeong dengan lembut, seolah memberiku sebuah jawaban. Sebuah jawaban dari pertanyaan besar yang akhir-akhir ini kerap kali menghantuiku.

Angin malam berhembus memainkan ujung pakaianku. Terasa menggelitik di balik pakaian katunku yang kurang melindungi dari dinginnya malam. Aku berusaha menafsirkan eongan kucing itu, saat menyadari bahwa itu hanyalah hal bodoh yang tidak akan membuahkan hasil. Namun, tidak ada salahnya bukan. Saat ini, aku hanya butuh secercah tambatan bahwa jawaban itu ada. Bahwa harapan itu ada.

Apa daya, hanya keheningan malam serta suara gesekan angin yang aku dengar. Selebihnya, hanya kekosongan dan kehampaan yang makin terasa kental menggantung di kelamnya malam ini. Tanpa satupun bintang yang tampak. Menyisakan sang rembulan, sendiri bersama awan-awan kelabu.

Ketika Maret tiba, aku hanya ingin tahu. Jalan manakah yang harus kupijak saat ini?

0 komentar:

Post a Comment