February 18, 2013

Boleh Saya Kembali?

Entahlah. Aku sendiri kadang tidak yakin, akan semuanya. Terutama diriku sendiri. Mengapa? Aku sendiri pun tidak tahu. Atau mungkin belum. Hanya bisa menunggu, mengais petunjuk akan jawaban yang bahkan datag dari dalam diriku sendiri.

Payah? Memang. Terlalu payah. Mengapa harus seperti ini? Mungkin, pertanyaan yang tepat yaitu, mengapa harus aku? Lagi-lagi, entahlah. Hanya pertanyaan, yang tidak disertai jawaban. Kalian harus tahu, karena pertanyaan yang datang tanpa jawaban, kerap kali datang ke hadapan kita.

Lelah. Tentu saja. Namun, apa yang bisa aku perbuat? Bahkan, hanya membuatnya menjadi lebih buruk. Payah. Kenapa? Kenapa tidak seperti dulu? Kenapa harus seperti ini? Lagi. Datang tanpa jawaban. Terbawa ke angkasa, oleh angin yang berhembus.

Lagi-lagi lelah. Mengenakan topeng yang sama berulang kali. Tanpa bisa jujur terhadap dunia luar, bahkan diri sendiri. Lantas, buat apa bertahan menjadi apa yang orang lain lihat? Bukan apa yang kita rasakan. Aneh, bahkan untuk ukuran manusia teraneh sekalipun.

Berjalan meniti, tanpa berpegangan. Sulit? Tentu. Namun, inilah dunia. Fakta yang ada, saat kita terbangun dari mimpi itu. Melanjutkan mimpi? Jangan bercanda. Bangun. Lihat ke depan, lalu berjalan lurus. Memang sulit, aku tahu.

Bolehkah aku meminta satu jam? Mungkin, inilah yang aku butuhkan: 25 jam/hari. Satu jam, untuk sejenak melepas segala beban dan penat. Melepas segala memori dan perasaan. Menjadi bebas, akan segalanya. Bolehkah?



Every child is special. I am sure, I have to.

0 komentar:

Post a Comment