December 28, 2012

Untuk Apa Saya Hidup?

Tapi jalan kebenaran 
Tak akan selamanya sunyi 

Ada ujian yang datang melanda 

Ada perangkap menunggu mangsa 


Akan kuatkah kaki yang melangkah 
Bila disapa duri yang menanti 
Akan kaburkah mata yang meratap 
Pada debu yang pastikan hinggap 

Dulu, saat ada yang bertanya "Sudah berapa lama kamu hidup?" Mungkin saya akan menjawab dengan percaya diri "Tujuh belas tahun," tanpa ragu. Namun, setelah beliau (Pak Eri Setiawan) bertanya seperti itu pada saya (kami) dan saya (kami) serempak menyebut jumlah umur saya (kami) beliau membantahnya. Apa semenjak kalian lahir, kalian sudah sadar bahwa kalian sudah hidup? Saat baru saja lahir, berkata "Ah! Saya hidup!" Kami terdiam. Lalu, ada seseorang yang menceletukkan jawaban baru, "Dua belas tahun, Pak!" Pak Eri malah balik bertanya: "Berapa umur kamu sekarang" Dia menjawab Tujuh belas tahun. Beliau lalu tertawa. Apa saat kamu berumur lima tahun, tiba-tiba berkata: Ah, ternyata saya hidup! *sambil menghirup nafas panjang. BUKAN!

Lalu saya kembali berpikir. Lantas sudah berapa lama saya hidup? Apa bahkan sampai saat ini saya belum juga hidup? *tiba-tiba panik sendiri* Beliau berkata, bahwa penelitian di Amerika mengatakan bahwa rata-rata mahasiswa baru menyadari bahwa dirinya hidup di tahun kedua mereka (atau semester kedua? -_-) Nah, kita harus saat ini juga sadar bahwa kita hidup!

Seperti apa kita menyadari arti hidup itu? Kapan kita menyadari bahwa kita ini sebenarnya hidup? (Nah, sebenernya di saat ini, entah sayanya yang memang ngantuk atau apa, jadi lupa-banyak materi yang telah disampaikan #slap) -Kalau tidak salah- Saat kamu menyadari apa tujuan kamu sebenarnya. Untuk apa kamu hidup? Apa tujuan kamu telah bertahan hidup selama 17 tahun? Bagaimana kamu menghabiska umur kamu?

Nah! Tujuan saya hidup? Mungkin, kebanyakan orang ingin sukses dunia-akhirat. Saya juga, awalnya seperti itu. Semua orang yang saat itu duduk di aula, juga berpikir begitu. Namun, lagi-lagi pendapat kami dipatahkan. Jangan sukses dunia-akhirat, tapi sukses akhirat-dunia! Begitu kata beliau. 

Ketika kita sukses di dunia, belum tentu di akhirat kita sukses. Naudzubillah... Namun, ketika kita sukses akhirat, maka hal itu akan mengantarkan kita menuju sukses dunia. 

Kok? Ya, makanya. Kita jangan lagi berdo'a supaya nanti bisa dapat gaji 20juta perbulan. Itu namanya mengutamakan dunia! Karena, kita itu harus mengutamakan akhirat terlebih dahulu. Makanya ganti do'a kita: Ya Allah, semoga nanti saya bisa membayar zakat 20juta. Nah, akhirat yang diutamakan. Lalu, kita kembali teliti do'a tersebut. Zakat yang kita bayarkan, adalah 2,5% dari gaji yang kita miliki. Jika 2,5%-nya saja 20 juta, bisa dibayangin dong berapa 100%-nya? :p (Pak Eri bisaa aja)

Materi ini hanya sebagian kecillnya saja lho, yang saya dapatkan ketika mengikuti Training-Outbound di Dusun Kunjani, Bogor (Ketika sedang di training oleh Ustadz Eri, beliau ini termasuk dalam timnya Mario Teguh lhoo)Subhanallah, tempatnya enak banget buat acara kayak begitu. Apalagi buat PDKT, pas banget deh pokoknya! 

Ya sudah, sekian dulu cuap-cuap saya hari ini. Semoga bermanfaat, bagi siapapun yang berkenan mampir dan membaca post ini sampai terakhir. Jaazakumullah khair!

Wassalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh!

1 komentar:

Eri Setiawan said...

Assalamu'alaikum wrwwb...


Bagaimana kabarnya ? Sudah menemukan dan menikmati jalan hidup mu kak ?

Post a Comment