November 25, 2012

Cita-cita. Mimpi. Angan. Jurusan (?)




Salah naik angkot? Tinggal turun, terus naik angkot yang lain deh.

Kalau salah jurusan? Nah, ini dia masalahnya...


Anak-anak. Mereka pasti punya cita-cita yang tinggi banget. Ada yang pilot, guru, dokter, arsitek, presiden, astronot, daaaan lain-lain. Termasuk aku. Dulu, aku punya cita-cita yang luar biasa beragam. Dokter? Pernah. Arsitek? Pernah. Namun, cita-cita yang paling banget aku inginkan itu dulu, wartawan. Mungkin, karena sewaktu SD dulu aku menekuni kegiatan Warcil atau Wartawan Cilik (unyu banget ya namanya #slap

Selain wartawan, cita-citaku dulu itu adalah segala hal yang berhubungan dengan jurnalistik. Yap. Entah itu reporter, pembawa berita, bahkan kameramen. Aku ingin bekerja di salah satu media, entah koran, ataupun acara berita. Lalu, aku ingin kuliah di Hubungan Internasional. Terdengar keren di telinga aku dulu (walaupun sekarang aku masih menganggapnya keren hehe). Selain jurnalistik, aku ingin bekerja di kedutaan. Kayanya keren gitu, hehehe #slap

Dari yang aku perhatikan, cita-cita berubah. Menjadi lebih spesifik. Seiring dengan berjalannya waktu. Di SD, (biasanya ya) kita mencita-citakan apa yang menurut kita hebat. Apa yang menurut kita keren. Makanya, cita-cita anak-anak itu luar biasa beragamnya.

Di SMP, aku memerhatikan bahwa mereka sudah mulai sedikit melihat prospek ke depan: dunia perkuliahan. Jurusan apakah yang kelak akan kita ambil. Namun, sebagian besar memilih cita-cita dari apa yang kita minati. Apa yang sekiranya kita inginkan dan kita sukai.

Lain halnya dengan SMA. Satu langkah lagi menuju cita-cita. Nah, disini kita sudah memilih cita-cita dengan berbagai perhitungan. Sudah berpikir menggunakan logikanya. Karena disini, memilih cita-cita, sama dengan memilih jurusan yang akan kita ambil di kuliah nanti. Selain mempertimbangkan apa yang kita minati dan kita sukai, kita memilah jurusan berdasarkan apa yang kita mampu. Apa yang kita kuasai. Selain itu, kita juga memerhatikan hal-hal seperti di fakultas itu, nilai nasionalnya berapa? Daya tampungnya berapa? Siapa saja pesaing kita? Kemampuanku kira-kira mencukupi gak ya? SNMPTN bisa tembus gak nih kira-kira kalau kita ngerjain soal hanya segini? Dll.

Masa SMA, itu menurutku, masa dimana kita mengalami "kegalauan" luar biasa dalam memilih jurusan. Salah pilih, bisa gawat tuh. Karena, kita juga sudah melihat prospek ke depan dari pekerjaan apa yang mungkin akan kita kerjakan.

Aku juga. Aku mengalami kegalauan yang luar biasa. Ada berbagai opsi. Entah pilihan ortu, yaitu kedokteran. Atau Psikologi? Cita-cita yang sempat aku inginkan semasa SD dulu. Di satu sisi, aku mulai tertarik dengan yang namanya Teknologi Pangan. Lalu, ada satu opsi yang memerlukan aku untuk mengikuti IPC. Yaitu sastra. Sedangkan minat saya terhadap HI, Fikom, dan pilihan IPS lainnya sudah resmi saya tutup :') (Sastra juga IPS tauuu)

Ya sudah, kuliah di jurusan manapun aku nanti, ada satu hal yang pasti. Aku akan jadi Penulis alias Pengarang! Cita-cita yang bener-bener gak tergoyahkan sejak aku kelas 1 SD. Aku ingat novel pertamaku dulu. Aisyah Putri. Novel yang mengantarkanku untuk memiliki cita-cita menjadi seorang author.

Kuliah di jurusan apapun aku nanti, jadi apapun aku nanti, Insyaallah, aku akan menjadi Penulis alias Pengarang :D

-Syaffa Taqiyyah

0 komentar:

Post a Comment