October 29, 2012

Menulis... Kerja Keras, Semangat!

Ada beberapa hal yang membuat eksistensi saya dalam menulis terjaga. Bahkan, ketika saya didera (ciaat bahasanya) tugas yang menggunung, masih sempat-sempatnya saya menulis. Entah itu hanya suatu catatan tanpa konflik, cerita-cerita konyol yang saya lalui, pendapat-pendapat yang kadang ngaco saya, dan lainnya.

Justru, ketika saya merasa stress akan tekanan berbagai hal, menulis dapat meringankan segala hal yang memberatkan yang berada dalam diri saya. Setelah menulis, rasanya seolah ada beban yang terangkat. Juga muncul suatu kebahagiaan tersendiri.

Menulis bagaikan bahan bakar yang selalu bersedia merecharge saya :D (Walaupun tulisan saya selama ini masih rada 'ngaco' :p, namanya juga masih belajar!)

***

Saya percaya, Insya-Allah segala kerja keras yang saya lakukan tidak sia-sia. Karena kami (Rohis) berada di jalan Allah. Saya percaya, bahwa setiap peluh yang kami hasilkan akan diganjar oleh kemanisan dariNya nanti. Bahwa kerja keras kami akan diganjar oleh pahala dariNya. Setiap tantangan, cobaan, masalah, adalah jalan yang harus saya lalui untuk bisa menjadi lebih baik. Bahwa segala hal tadi bukan datang dari orang-orang di sekitar kita, entah itu guru, teman, alumni, dll. Melainkan dari Allah, dan mereka hanyalah sekadar perantara.

Saya percaya, bahwa saya akan merasakan kemanisan dari kerja keras saya nanti. Biarlah hanya Allah, malaikat, dan saya yang tahu. Biarlah mereka memandang saya seperti itu. Ikhlas!

Dan hari ini, saya merasakan bahwa hari saya amatlah super. Setelah kemarin diberikan segala wejangan dan nasihat, Alhamdulillah niat saya menjadi lurus. Tekad saya juga menjadi semakin kuat. 

Jadi, sejak seminggu kemarin, dunia saya amat penuh. Terlalu sibuk istilahnya. Sementara, kondisi saya semakin memburuk. Puncaknya, hari Minggu kemarin. Saya pulang NF pukul 19.30 WIB setelah konsul habis-habisan bersama kakak BIP (males nyebut nama ah :p). Disinilah saya diuji. Di satu sisi, saya harus mengerjakan tugas-tugas Rohis yang menumpuk. Di sisi lainnya, besok saya akan ulangan kimia, dan belum belajar sedikitpun. 

Ketika saya mencoba menyusun skala proritas, memang tugas itu yang lebih penting. Maka saya melapangkan dada dan segera mengerjakannya. Berkali-kali saya mengucakan mantra "Ikhlas, Syaf..." Walaupun akhirnya, saya tidak sempat belajar kimia karena waktu yang tidak memungkinkan.

Di sekolah, saya belajar. Namun, hasilnya memang berbeda dengan saya (yang jika) belajar di rumah. Kayanya lebih poll gitu kalau belajar di rumah. Karena itu, saya sudah pesimis menghadapi ulangan nanti. Di sekolah saya menjadi bad mood. Tak urung mata saya meneteskan air mata (ciaat) beberapa kali. Sambil mengulang kalimat, "Ikhlas, Syaf..."

Dan, ulangan kimia tidak jadi. Diundur sampai hari Rabu, karena sekolah mengadakan pulang lebih awal untuk melepas Pak Dudung yang sekarang menjadi kepala sekolah di sekolah lain. Subhanallah... Saya mengucap syukur berkali-kali. Ini bukan yang dinamakan dengan 'Allah selalu memberikan jalan-Nya'? 

Ya. Saya percaya. Saya anak Rohis, dan saya bangga akan hal itu.

1 komentar:

radithya dhika said...

tetep semangat ya menulis itu indah loh jika dihayati apalagi dibaca orang banyak...


salam kenal

visit me back www.carauang.com

Post a Comment