November 13, 2011

if only..

Smanitra berduka. Lagi.
Aku ngerasain Déjà vu.  Aku pernah ngerasain hal ini. Menunggu berbulan-bulan. Menunggu kedatangan sahabat yang sedang terbaring lemah di rumah sakit. Yakin akan datangnya hari, dimana kita akan kembali berkumpul. Bersenda gurau bersama. Bertengkar, berdebat kusir, dan hal-hal tidak penting lainnya. Tapi, siapa yang tahu? Ketika kita ternyata tidak akan melakukannya lagi. Ketika kita merindukan hal-hal tidak penting yang sering kita lakukan.


Yah, seperti debat antara recorder dan seruling? Saling menghempaskan recorder sehingga ada 'air' yang beterbangan dari recorder itu. Ke kantin bareng, dan kamu hanya akan membeli 2 bahkan 3 bungkus kue cucur. Membicarakan foto-foto Lee Minho yang terpampang di meja para guru, menabur serbuk glitter di pegangan pintu, mengotori pintu kelas di hari Sabtu dan sengaja datang terlambat di hari Senin agar tidak ketahuan, dan lain lain lain sebagainya. I miss you, An.


Kita, yang sahabat sejak kelas 1 SD. Kita yang saling mendukung ketika ada salah satu dari kita yang dikerjai oleh anak nakal. Kita yang menangis dengan kencang ketika tahu kau akan pindah sekolah.  Kita yang ternyata dipertemukan kembali di SMA, dan bahkan 1 kelas. Kita yang kembali menjadi sahabat.


Saat engkau sakit dan terbaling lemah selama berbulan-bulan di rumah sakit, kami setia menunggumu. Menunggu dan menunggu. Hingga datanglah hari yang sama sekali tidak kita sangka-sangka.


Sesaat setelah kepergianmu, aku dan teman-teman di kelas tetap melakukan kegiatan di kelas seolah tidak terjadi apa-apa.Ya, seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi di alam bawah sadar kami, kami tetap menunggumu An. Entahlah, mungkin kami sudah terbiasa hari-hari saat di kelas tidak ada kamu. Sementara kamu sedang berperang melawan penyakitmu. Mungkin kami sudah terbiasa menunggumu. Kamu yang akan datang kembali membawa bekal sehat yang banyak. Kamu yang akan mengajakku berlatih tarian saman di belakang kelas.


Hanya 6 bulan. Tapi kamu udah begitu berarti bagi kami, An..


Dan untuk kali ini, aku bisa merasakan perasaan sahabat-sahabatnya Kak Tissa Trinovia. Mungkin apa yang mereka alamin sama persis. Ka Tissa yang sudah 4 bulan menginap di rumah sakit. Yang akhirnya datang juga hari yang sama sekali tidak mereka sangka. Di alam bawah sadarnya, mungkin mereka juga akan tetap menunggu. Menunggu tanpa lelah.


Bahkan sampai sekarang, An. Kami masih belum percaya. Kami masih menunggumu, tanpa kami sadari. Do'a kami akan selalu menyertaimu. Aan tak akan terganti, abadi dalam memori kami. Begitu juga Ka Tissa dan Bu Tutik. Kalian tak akan terganti. Abadi dalam memori kami. Do'a kami tak akan pernah lepas untukmu.. :')

0 komentar:

Post a Comment