November 3, 2017

#np - Please, don't be sad.

Hari ini, 3 November 2017, pukul 12.47, saya masih terkapar di salah satu kafe di Jatinangor. Menjadi mahasiswa tingkat akhir, sebenarnya menyenangkan. Tapi tidak ketika akhirnya semua kawan sudah pergi, waktu santai dipenuhi pikiran menyebalkan, dan hal lain yang menyita perhatian dari fokus utama saat ini.

Waktu berjalan dengan sangat-sangat cepat. Dulu rasanya satu semester adalah waktu yang luar biasa panjang seolah tidak akan ada akhirnya. Saat ini, 10 bulan bagaikan sekejap mata. Target demi target yang tertulis di lembar di atas dinding seolah tidak ada artinya.Selembar dua lembar tisu menjadi saksi saat tulisan demi tulisan terhapuskan dan tergantikan.

Menjadi mahasiswa tingkat akhir membuat saya bertanya-tanya, apa yang sedang saya perjuangkan? Tugas akhir, jabatan akhir, kost yang statusnya semakin tidak jelas, kartu tanda mahasiswa yang sudah tidak berlaku, apalah. Segala omong kosong yang menjadi beban, menggelayuti setiap langkah yang semakin berhenti.

Sebenarnya, saya bisa saja terlepas dari semua beban yang sejatinya hanya ada di dalam pikiran saya. Tinggal tidak peduli, maka semua akan berakhir. Tapi, kadang-kadang, tidak peduli jauh lebih sulit daripada harus peduli. Beban moral, rasa bersalah, atau apalah itu.

Dan pada akhirnya, semua hanyalah alasan di balik kelalaian yang berusaha saya tutupi dengan dalih kebaikan. Saya, tidak sebaik itu.

October 14, 2016

Kenapa saya bisa disini.

Ada yang menyebut bahwa saya mah orangnya legislatif banget. Iya gitu? Mungkin hal ini didasarkan pada fakta bahwa tahun lalu saya habis-habisan menjadi tim KPU atau pemilu-pemilu-an di Unpad, kemudian di tahun berikutnya saya akhirnya untuk pertama kalinya sungguh suatu keajaiban, berada di dalam kepengurusan BPM Kema Unpad menjadi senator dari fakultas asal saya.

Waw.

Padahal berada di dalam Prama, lantas tidak membuat saya paham seluk beluk BPM. Pun tugas-tugas saya disana lebih mirip penyelenggara sebuah acara, yaitu perhelatan pemilu. Hanya saja, mungkin saya menjadi sedikit terbiasa dengan segala macam tetek bengek undang-undang, peraturan resmi, surat keputusan, dan apapun itu yang sering dipanggil dengan legal drafting.

Kemudian apa yang membuat saya akhirnya masuk ke dalam jajaran legislatif kampus?

Mari kita lihat bertahun-tahun ke belakang. Sebagai seorang siswa SMA, mahasiswa rasanya terdengar sungguh keren. Berisi orang-orang hebat yang mandiri dan penuh semangat. Kemudian ada yang disebut dengan BEM. Atau kita sebut, OSIS-nya sekolah. (Lantas setelah di kampus, barulah saya menyadari bahwa mereka yang berada di dalamnya sungguh tidak suka jika disamakan dengan OSIS). Terdengar keren, pokoknya. BEM. Waw. Kemudian kakak perempuan saya pun masuk ke dalam jajaran BEM itu. Namanya adik, mungkin sudah hakikatnya pengen mengalahkan kakak. Maka saya pun bermimpi ingin masuk ke dalam BEM.

Terus, dimana BPM? Sungguh tidak ada. Rasanya saya baru mengetahui istilah tersebut saat sudah masuk Unpad. Di SMA, saya tidak tahu banyak. Hidupnya sempit berada di ekskul, Rohis, atau tempat les. Tidak suka OSIS, karena untuk bergabung disana saya harus ikut LDK atau Latihan Dasar Kepemimpinan. Yang isinya seperti pelatihan-pelatihan militer, Rasanya mager sekali. Akhirnya, bye, OSIS.

Namun, berada di kampus yang sama, jurusan yang sama, dan lingkaran pertemanan yang sama, membuat saya terus menerus dibandingkan dengan kakak saya. Di semester 2, saya masuk ke dalam kepengurusan BEM fakultas. Akhirnya, cita-cita masuk jadi anak BEM kesampaian. Namun, lagi-lagi, dibandingkan. Maka tahun kedua, saya tidak melanjutkan. Pun ke BEM univ. Sampai pada suatu April, seorang senior yang berinisialkan K mengajak saya bergabung di Prama.

Setelah seleksi, interview, dan lain-lainnya, maka saya pun diterima. Awalnya senang, tanpa tahu ternyata dengan bergabung di Prama, saya menjadi penonton langsung dari pentas drama di Unpad akhir 2015 silam. Ah, intinya, menjadi saksi hidup hingar bingar kericuhan yang terjadi. Menjadi pihak yang tersudutkan dan dipandang menyebalkan, padahal mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dari Prama, saya belajar untuk lebih jauh menghargai sebuah proses.

Namun saya masih menyimpan cita-cita ingin masuk BEM univ. Iya, da anaknya mah bukannya cita-cita pimnas, apa gitu.

Sampai, perbandingan-perbandingan itu masih terdengar. Sulit sekali rupanya lepas dari jejak kakak saya. Selalu setiap orang berkata, 'Wah ini adiknya....' dan lain-lain. Need for ach saya tidak mengizinkan hal itu terjadi. Maka di tahun berikutnya, awal 2016, ketika saya diminta untuk mengisi kekosongan kursi psikologi di BPM Kema, saya pun menerimanya. Lalu langsung mengurusi berkas ini itu yang sungguh riweuh. Tidak lagi ada yang berkata saya masuk ini-itu untuk ngikutin kakaknya. 

Iya. Sesederhana itu. Mengapa saya berada di dunia legislatif ini. Semua sangat baru. Hampir saja saya terseok-seok untuk menyesuaikan diri disini. Sampai akhirnya, semua terasa menyenangkan. Bertemu dengan kawan-kawan yang luar biasa aneh. Berada di dalam sekre berantakan dengan wi-fi yang fantastis. Sampai akhirnya dibilang saya itu orangnya legislatif banget. Padahal, saya yakin asumsi mereka itu dikarenakan frekuensi saya di sekre yang terbilang tinggi. Tidak tahu saja saya sebenarnya hanya memanfaatkan koneksi internet.

Kurang dari dua bulan semuanya pun akan berakhir. Selamat tinggal sekre. Selamat tinggal kawan.

Akhirnya, cita-cita saya masuk BEM univ pun tidak kesampaian. Berhubung waktu saya di kampus sudah hampir kadaluarsa. Tapi ternyata BPM pun tidak kalah keren. Iya, keren kok. Beneran.


September 28, 2016

T U A !!!

Jejak hidup saya sering kali membosankan. Namun ada kalanya berjalan dengan seru walaupun hanya saya yang menganggapnya begitu. Pun tak ayal dirundung nestapa yang membuat kepala pusing tujuh keliling. Macam-macam lah pokoknya. 

Saat ini, saya akhinya berada di tahun akhir kuliah. Dimana anak-anak yang baru masuk adalah angkatan 2016 dan mereka rata-rata lahir di tahun 1998. Akhirnya, saya menjadi angkatan aktif tertua. Akhirnya, tahun ini angkatan saya lah yang akan berlomba-lomba menduduki tampuk kekuasaan tertiggi di tataran keluarga mahasiswa. Siapapun nanti yang menjadi presiden kema dan ketua BPM kema, pada akhirnya saya tidak akan memanggil mereka dengan embel-embel kang atau teh.

Ternyata saya sudah tua. Perasaan yang selalu muncul saat berada di penghujung jenjang. Dulu saat kelas 3 SMA, merasa tua. Saat 3 SMP pun sama. Lalu 6 SD? Tidak tahu, lupa. Kemudian nanti ketika saya lulus dan kemudian berada di dunia kerja, saya akan kembali menjadi muda dengan segala kekurangan pengalaman dan keterampilan.

Satu hal yang pasti, saya masih berada di titik ini. Pertengahan semester tujuh yang membuat kepala pusing tujuh keliling.

Lalu sekre itu masih menjadi sepetak (atau mungkin dua petak) tempat saya bersembunyi. Tempat saya melupakan sejenak sakit kepala tujuh keliling. Sambil memandangi tiga banner yang menghalangi jalan, melihat anak-anak Perisai Diri latihan, lalu anak-anak Menwa yang sering kali meminta kami untuk tenang karena akan melakukan upacara, juga dua kamar mandi yang selalu kehabisan air di atas waktu magrib.

June 29, 2016

Finaleh, Senior Year. I'm coming!

Rumah adalah rumah. Kost adalah rumah. Kalau bahasa Inggrisnya itu, house. Tapi cuma satu yang bisa disebut home. Iya. Rumah ini. Yang sangat panas dan padat penduduk. Gak ding. Cuma untuk saya yang seorang introvert, memiliki lapak pribadi adalah hal yang perlu. Untuk sekedar duduk bengong gak ngapa-ngapain. Tapi, well, I'm home gitu loh. Emang sih rada ga nyaman. Tapi, bisa lah sekali-kali kabur ke halaman depan dengan kepala ditutupin sarung dan duduk aja sendirian di samping pintu. Nggak tau deh kaya apaan.

So, libur t'lah tiba. Dengan aku yang meninggalkan urusan kampus yang belum terselesaikan. Tetiba line dan whatsapp kayanya sih penuh. Yah berhubung di rumah gada wifi, terputuslah diriku dengan dunia luar. Heran, betapa manusia begitu bergantung sama teknologi ya. Kadang kangen deh sama dulu yang harus selalu lewat SMS. Kan, jadi murah kalau mau SMS.

Pokoknya, aku kabur. Kabur dari rutinitas kampus yang kadang menyesakkan. Heran. Aku yang sekarang, ngetawain semua masalahku waktu SMA dulu. Mungkin nanti pas udah lulus udah kerja udah keren, masalah di kampus bahkan terlalu malu-maluin karena ya ampun gue dulu cemen banget gitu aja stres. Kira-kira begitu lah.

Padahal bete banget dengan rekan-rekan yang milih kabur ninggalin sejenak demi kepentingan pribadinya. Aku, kan, posisinya sebagai orang yang ditinggal. Bete. Kesel. Pengen kabur juga. Tapi gabisa. Dan sekarang dengan ga tau dirinya aku lah yang kabur itu. Meninggalkan seorang rekan yang mungkin perasaannya sama kaya aku. Mungkin juga gak sama. Itu tergantung orangnya gimana sih.

Apapun yang terjadi,

Finaleh, angkatan tua. Iya. Syaffa. Taqiyyah. Berhasil melewati tahun ketiganya dan sedang bersiap untuk tahun keempat. AAAAAAAAAAAAK.

June 12, 2016

Sudah lama tak berjumpa. Ya? Ya?

Bercerita tentang kehidupan sehari-hari terasa membosankan dan mengkhawatirkan. Kenapa? Saya juga tidak tahu. Namun kembali membaca laman demi laman di blog ini, saya seperti terbawa ke zaman baheula dimana menulis adalah hal yang menyenangkan dan tak perlu risau memikirkan apapun.

Juli 2015 tepatnya tanggal 31 adalah terakhir kali saya menge-post di blog ini. Bahasanya sudah lumayan gak alay-alay amat. Maklum, sudah kuliah. Sedikit lebih dewasa. Alias jadi membosankan. Membaca tulisan-tulisan dulu ketika SMA, memang alay, tetapi menyenangkan. Seperti langsung terpikir, ya ampun gue dulu gitu banget.

Padahal, kehidupan di dunia kampus jauh lebih berwarna. Jauh lebih luas. Sekolah saya, SMAN 1 Tangerang, bahkan lebih kecil daripada kebanyakan satu fakultas di Unpad. Tapi naha cerita seolah lebih berkesan dulu, di tempat yang imut?

Atau saya sudah tidak lagi memiliki sudut pandang yang menyenangkan? Ga tau deh. Seolah gak ada lagi apa-apa yang bisa diceritakan di saat ini. Dulu, kehidupan sehari-hari yang biasa banget bahkan terasa menarik dan pantas untuk diceritakan di blog. Sekarang.... Gak tau ah.

Manusia itu dinamis. Katanya. Benarkah?

Iya juga sih. Toh saya disini yang kian hari makin kaku kaya robot, adalah bukti bahwa saya begitu berbeda dengan diri saya yang dulu. Seringkali kangen, dengan ke-dulu-an itu. Kemudian meratapi perubahan-perubahan yang ada. Padahal, lebih banyak juga hal positif yang terjadi.

Sekarang, keinginan untuk kembali mengabadikan hari-hari biasa itu muncul. Tentu ga akan di-publish di t*u*m*b*l*r. Terlalu banyak yang mengenal saya hahahaha. Gak ding. Kasian orang lain, yang buka tumblr untuk baca tulisan-tulisan bermakna. Bukan curhatan ga penting dari seorang saya yang biasa banget.

Anyway, besok UAS Psikologi Personel. Baca? Udah sih. Semua. Tapi, baru baca kaya orang mau kuis mendadak. Ditambah pengumpulan tugas Metpen. Well. Akibat ditunda berabad-abad, sekarang saya harus makan hasilnya. Sukurin! Saatnya kembali mengaktifkan the power of kepepet.

July 31, 2015

Hari yang panjang. (Setidaknya untuk saya saat ini)

Hai.

Saat ini saya tengah menikmati liburan semesternya mahasiswa yang terkenal panjang. Dari 24 Juni hari terakhir saya UAS dan masih 4 Agustus sampai akhirnya hari perkuliahan pertama. Lama? Iya lama banget. Sayangnya, berhubung saya anaknya itu sok-sok-an pengen ngehitz, maka saya mendaftar pada kegiatan dimana kegiatan tersebut akan membuat saya harus kembali ke Jatinangor lebih awal. Urgh. Semoga tidak terlalu cepat.

Lantas, apa sebenarnya yang saya lakukan di rumah sampai rasanya tidak rela kalau harus segera kembali kesana? (baca: nangor)

Tidak ada yang istimewa. Sungguh. Justru disini saya merasa waktu untuk saya bermalas-malasan jauh lebih sedikit dibandingkan di kosan. Lalu? Maksudnya?

Yah, tahu sendiri lah. Tapi disini, pikiran saya jauuuh lebih tenang. Tidak ada tekanan dari dia-dia-dia-dia. Hahaha. Rasanya menyenangkan. Hanya bersama ummi abi. Juga sodara-sodara yang menyebalkan. Hanya kesejukan nangor lah yang paling saya rindukan.

Sejujurnya, sampai saat ini, saya tidak tahu lagi apa yang ingin saya tuliskan. Tapi berhubung saya tuh sering ngaku suka nulis alias ngetik, lanjut aja ya. Bodo amat makin tijel juga.

Nah, sebulan lagi saya akan resmi berulang tahun ke 20. Ya ampun kepala dua. Hahaha lebay ah. Dulu, rasanya begitu jauh untuk menyandang umur yang diawali dengan dua. Perasaan masih lamaaa banget dan bahkan hampir kerasa gak nyata. Dan sekarang, here I am. Padahal kalau di psikologi mah semenjak umur saya 19 tahun 6 bulan maka saya dinyatakan sudah berusia 20 tahun-an.

Ada yang menarik dari umur 20 tahun. Saya pernah menonton sebuah film yang bertemakan umur tersebut. Sekelompok anak muda yang tentunya berumur 20 tahun dan menjalani kehidupannya. Namun, jika saya bandingkan dengan kenyataannya, kok beda banget ya? Hidup saya yang sering kali saya keluhkan diam-diam itu tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka. Benarkah kehidupan di luar sana seberdinamika itu? Maka saya disini apa atuh. Flat banget.

Mungkin ada hubungannya dengan hobi saya yang membaca buku-buku fiksi. Kehidupan penuh petualangan, berbahaya, kejar-kejaran, invasi alien, serangan monster, ancaman penyihir, buruan polisi, dll. Atau menjadi anak raja, pewaris grup bisnis raksasa, the-chosen-one, dll. Sehingga saya kembali membandingkan kehidupan mereka dengan kehidupan saya yang rasanya penuh banget dengan rutinitas yang membosankan.

Namun, rutinitas itulah yang diterima dengan baik oleh masyarakat. Padahal, siapa juga mereka? Kenapa gue harus ngikutin maunya mereka?

Well itu adalah pilihan. Saya memiliki kebebasan untuk menentukan apa yang ingin saya lakukan. Sesuai dengan pandangan masyarakat? Atau tidak. Namun di setiap pilihan pasti ada konsekuensinya. Kalau begitu, apakah masih bisa disebut kebebasan? Ya iyalah. Jangan kaya lagi belajar filsafat deh.

Intinya? Inti dari tulisan saya awal-akhir?
Ada yang tahu?

Yak. Saya hanya sedang menghabiskan waktu. Rasanya menyenangkan kembali mengetik huruf demi huruf yang walaupun berakhir dengan sebuah postingan konyol.

Ah ya, terakhir. Saya habis membuka post lama yang pernah saya tuliskan dulu pada bulan Oktober 2012. Disitu jelas sekali saya sedang menghadapi minggu tersibuk penuh ulangan dan tugas organisasi. Namun saya yang dulu begitu menikmatinya, bahkan merindukannya. Dia menjalani semuanya dengan senang.

Lalu saya merasa malu dengan saya-yang-hampir-20-tahun-ini. Stupid. Malu dan iri dengan diri sendiri. Menyesali mengapa saya telah berubah sedrastis ini. Ingin sih menanggapi dengan kalimat, kan lingkungan kita beda! disana kamu berada di tengah orang-orang yang mendukung, memepercayai kamu, menghargai, dan selalu ada. Tapi, bukan itu masalahnya.

Masalah kita akan selalu terupgrade kawan! Jika saya tidak bisa menghadapi masalah saya yang sekarang, bukan berarti saya jadi payah, tapi saya yang tidak ada peningkatan.

Namun semua orang bisa mengasah dirinya kan?

May 12, 2015

Heran. Apakah hidup memang seperti ini?

Hai.

Ampun, sudah berapa abad saya meninggalkan blog ini? Rasanya tidak adil sih. Mentang-mentang sudah ada media lainnya, lantas media lama ditinggalkan. Padahal sudah ada banyak sekali post disini yang menyimpan memori saya semasa SMA. Masa yang katanya saya mah paling enakeun!

Btw, saya sudah hampir menyelesaikan semester ke-4 nih. Tuaaa. Hahaha. Untuk beberapa orang mungkin menilai 'yaelah, baru semester 4 Non!' tapi mungkin, mungkin aja, ada yang berpikir 'wah, si Syaffa udah semester 4 aja ya...' Well,  itu terserah Anda sih.

Setelah genap dua tahun lamanya meninggalkan SMA (karena UN SMA baru aja selesai), saya merasa tua. Yang lebih tua jangan merasa tersindir yah. Banyak banget-nget yang sudah terjadi di kampus ini. Situasi dan kondisi yang begitu berbeda, Karakter teman yang sepenuhnya berbeda. Pokoknya pada beda lah.

Ada kalanya saya menangisi hal-hal yang begitu berbeda dan menekan. Ketika masalah-masalah yang tidak pernah saya temui di SMA, datang gerombolan saat saya di kampus. Seperti ingin kembali memanggil teman-teman konyol saya di SMA dan kembali ke mereka.

Tapi, bukannya dengan masalah yang jauh lebih rumit, akan membuat diri saya semakin hebat? Meureun..

Saya juga tidak tahu sih. Terkadang menghadapinya pun saya harus kembali memosisikan diri saya seperti dulu. Lah? Pokonya, saya merasa diri saya yang sekarang kian baper. Makin ga suka lingkungan. Makin menyendiri. Beda aja sih, sama sama yang dulu. Sama temen sekelas ataupun Rohis ataupun Nippon Club, saya mah suka banget kumpul bareng mereka. Mereka yang konyol, alay, tijel, gaul, hobi bully saya, aneh, malah menyenangkan.

Lalu saya melihat diri saya sekarang. Laaaah?

Gak tahulah. Saya juga ga tau kenapa nulis ini. Alasannya sih cuma ingin bernostalgia dengan kumpulan catatan saya dulu. Asal tau, blogspot tuh yang dulu ngehitz. Sekarang mah tumblr sih ya yang kekinian.

Wes, saya sudahi racauan ini. Kenyataan sudah menunggu (baca: tugas ekslan!).